Oleh: Hepi Andi Bastoni
Dua sifat cermin yang mestinya melekat pada pemimpin. Pertama menampilkan bayangan apa adanya. Cermin tak pernah berbohong. Tak ada yang ditutupi. Transparan. Jujur.
Sifat ini seharusnya dimiliki pemimpin. Jujur tak sekedar lipstick, manis diwajah tapi borok didalam. Jujur dalam tindakan, bermakna selarasnya ucapan dan perbuatan, antara janji dan kenyataan.
Transparan tak berarti buka-bukaan, tapi mampu menampilkan yang perlu ditunjukkan dan mendiamkan yang tidak semestinya dibuka. Tak bisa disebut sikap transparan kalau seorang manajer sebuah perusahaan, misalnya, menceritakan kondisi kerugian perusahaannya kepada seluruh bawahannya yang bisa membuat mereka resah. Lebih disayangkan lagi kalau 'keterbukaan' ini justru dilakukan saat kondisi perusahaan sedang buntung dan malah ditutupi kala situasi sedang untung.
Begitu pentingnya transparansi dalam kepemimpinan, sehingga Rasulullah pernah memvonis seseorang masuk neraka lantaran menyembunyikan harta rampasan pada Perang Tabuk. Ia dianggap menyelewengkan harta negara dan layak dihukum keras. Sejarahnya pun dijadikan cermin buruk bagi seseorang yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada Islam tapi mengakhiri hidupnya dengan su'ul khatimah.
Kedua, selain menampilkan bayangan apa adanya, cermin juga memposisikan diri sebagai alat introspeksi diri. Sebelum keluar rumah, cermin menjadi amat penting. Orang seakan tak percaya diri sebelum melihat dirinya dihadapan cermin. Pemimpin seharusnya begitu. Ia sejatinya jadi cermin bagi bawahannya. Ini makna ungkapan Rasulullah yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, "Al-Mukminu mir'atun li akhihi. Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya."
Begitu pentingnya tampilan pemimpin, lantaran seluruh tindakannya menjadi pusat perhatian. Karenanya, diantara tolok ukur keberhasilan seorang pemimpin adalah ketidakmampuannya memantulkan nilai-nilai kebaikan untuk diikuti oleh orang lain. Dalam kaidah ini, kita menemukan fakta betapa Rasulullah adalah pemimpin sukses. Perilakunya tak sekedar diikuti oleh mereka yang hidup semasa dirinya, tapi juga oleh jutaan orang yang tak pernah melihatnya.
Perilakunya jadi cermin. Tindakannya jadi acuan kebenaran. Sikapnya jadi barometer keshahihan. Semua itu terpatri dalam sikap nyata pada keseharian dan bukan tertuang dalam lembaran teks yang tak pernah dipraktikkan.
Dikuti dari: Sabili No 8 Th XV






0 comments:
Post a Comment